Farizuko’s Weblog

Jagat Raya

Galaksi

Sejak dulu bangsa kita sudah mengenali adanya penampakan lajur putih membentang dari langit utara ke langit selatan seperti awan. Pada bagian-bagian tertentu terdapat daerah gelap, seperti gambar orang yang sedang berkelahi dengan ular, dan dipercaya bahwa daerah gelap tersebut adalah bayangan Bima yang sedang bertarung melawan seekor ular, kemudian lajur putih tersebut diberi nama Bima Sakti. Lain halnya dengan orang Eropa, mereka percaya bahwa lajur putih tersebut adalah air susu dewi Juno yang tumpah ke angkasa, disebut Milky Way yang berarti jalur susu.

Galileo adalah orang pertama yang mengamati Bima Sakti dengan teropong. Ternyata lajur putih seperti kabut terang dan gelap tersebut terdiri dari bintang-bintang yang sangat padat dan tidak dapat dipisahkan oleh mata telanjang. Kabut terang adalah kumpulan materi antar bintang yang diterangi bintang panas disekitarnya sehingga nampak terlihat terang, sedangkan kabut gelap adalah kumpulan materi antar bintang yang kerapatannya tinggi sehingga menghalangi cahaya bintang dibelakangnya misalnya kabut Kantung Arang yang terdapat di rasi Layang-layang.

Daerah kabut susu membentuk gelang yang tampak mengelilingi tata surya, menunjukkan bahwa bintang-bintang di sekeliling tata surya membentuk suatu keluarga besar yang dinamakan galaksi Bima Sakti, kitapun berada didalamnya. Masalahnya, bagaimana pada ahli menentukan bentuk dan ukuran galaksi Bima Sakti sementara kita sendiri berada didalamnya, tentunya tidak sesederhana kalau kita melihat galaksi lain.

Tata Surya
Tata surya

Pada malam yang cerah bisa diamati aneka benda langit. Taburan bintang, bulan, planet, kadang penjelajah kecil di tata surya semisal meteor dan komet. Dengan teleskop dapat dilihat lebih banyak bintang, kawah di bulan, satelit planet, dan penjelajah kecil lain yaitu asteroid. Tentang bintang kalau diamati ternyata susunannya tak berubah. Karenanya dibuatlah peta langit yang tersusun atas 88 rasi bintang atau konstelasi dan 12 diantaranya Zodiak.

Meteor

Sambil menikmati terbit terbenamnya benda langit pada malam hari, yang sebenarnya akibat rotasi bumi – kita dapat berharap melihat meteor walau kebanyakan sangat redup dilihat mata bugil. Julukannya bintang jatuh. Meteor berasal dari materi antar planet berukuran kecil maupun besar. Kadang materi ini jatuh ke bumi. Saat masuk atmosfer, bergesekan dengan atmosfer, panas dan terbakar. Kebanyakan meteor habis terbakar, kadang tidak habis sedemikian sehingga jatuh ke bumi. Sisa meteor ini disebut meteorit. Salah satunya adalah meteorit Tambak Watu yang jatuh di Pasuruan Jawa Timur yang kini disimpan di Planetarium Jakarta.

Kadang tampak pula komet walau sangat jarang. Sesungguhnya dia berasal dari pinggir Tata Surya. Awalnya bongkah salju kotor aneka unsur. Ukurannya pun hanya sampai beberapa kilometer. Terbentuknya ekor pada komet sebenarnya akibat adanya kombinasi tekanan radiasi dan lontaran angin matahari. Keberadaan komet bisa juga menyebabkan terjadinya hujan meteor.

Saat matahari terbit, langit memerah dan kemudian menjadi biru cemerlang dan benda langit lain pun hilang. Sebenarnya ini karena adanya atmosfer yang menghamburkan cahayanya. Matahari adalah kepala keluarga tata surya sekaligus bintang terdekat berjarak sekitar 150 juta km. Sekitar 1.300.000 bumi dapat masuk ketubuhnya. Ibarat lampu raksasa dengan daya 400 trilyun watt, sungguh besar peran matahari sebagai pemasok energi di bumi. Permukaannya sering dihiasi bintik hitam (sunspot) yang sekaligus menunjukkan gerak rotasinya. Dia bisa memancarkan cahaya karena dipercaya dipusatnya terdapat pembangkitan energi nuklir yang luar biasa besar.

Matahari

Hal yang menarik bahwa ternyata matahari senantiasa bergeser ke timur relatif terhadap latar belakang bintang. Fenomena ini sudah disadari sejak ribuan tahun lalu. Menengok fenomena ini lebih mudah bila bumi tidak beratmosfer. Sekaligus disini kita mengenal perbedaan panjang hari yang berpedoman bintang (hari sideris) dengan yang berpatokan matahari (hari surya). Jejak pergeseran matahari ke timur ini disebut ekliptika. Matahari butuh waktu satu tahun untuk melakukan 1 lingkaran. Gerak ini disebut gerak semu tahunan matahari. Pergerakannya diikuti planet dan bulan disekitar lingkaran tersebut melewati rasi-rasi zodiak. Disebut semu karena sebenarnya bukan matahari yang bergerak, melainkan bumi yang mengedari matahari. Disebut gerak revolusi bumi. Hal ini jelas kalau melihat tata surya dari jauh. Kita melihat bagaimana planet mengedari matahari, sekaligus berkenalan dengan sifat-sifat planet.

Secara garis besar mengenai hal itu bisa dilihat pada tabel dibawah ini:

Nama
Planet
Jarak ke
matahari
(juta km)
Periode
revolusi
Periode
rotasi
Arah
rotasi
Diameter
ekuator
(km)
Jumlah
satelit
Kecepatan
edar
(km/detik)
Suhu
permukaan
(C)
Merkurius 58 88 h 58,65 h B – T 4.878 0 47,9 (-) 170-400
Venus 108 225 h 243 h T – B 12.102 0 35,0 450-480
Bumi 150 365,25 h 1 h B – T 12.756,3 1 29,8 (-) 88,8-57,8
Mars 225 1,88 t 24,6 j B – T 6.794 2 24,1 (-) 124-24
Jupiter 778 11,86 t 9 j 50 m B – T 142.796 17 13,1 (-) 140
Saturnus 1.500 29,46 t 10 j 14 m B – T 120.660 24 9,6 (-) 160
Uranus 2.900 84,1 t 17 j T – B 50.800 21 6,8 (-) 180
Neptunus 4.500 164,8 t 18 -26 j B – T 48.450 8 5,4 (-) 200
Pluto 6.000 248,5 t 6,38 h T – B 2.320 1 4,7 (-) 238
Keterangan:
1. t = tahun; h = hari; j = jam; m = menit; (-) = minus, lebih kecil dari nol derajat celcius.
2. B : barat; T : timur
3. Merkurius s.d Mars disebut planet kebumian, ukuran relatif kecil dan bersifat pejal/padat.
4. Jupiter s.d Neptunus disebut planet Jovian, atau planet keluarga Jupiter yang ukurannya besar dan terbentuk dari gas padat. Sering disebut planet gas raksasa.
5. Planet inner (dalam) : Merkurius s.d Mars; Planet outer (luar) : Jupiter s.d Pluto
6. Planet inferior (dalam) : Merkurius, Venus; Planet superior (luar) : Mars, Pluto

Data Bulan

Jarak rata-rata ke bumi : 348.392 km (356.500 – 406.800 km)
Periode edar sideris : 27 hari 7 jam 43 menit 11,5 detik
Periode edar sinodis : 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik
Periode rotasi : periode edar sideris; oleh sebab itu wajah yang menghadap bumi selalu sama
Diameter ekuator : 3.476,4 km
Gerak harian sideris rata-rata relatif
terhadap latar belakang bintang (ke timur)
: 13, 18 derajat
Inklinasi bidang edar terhadap bidang
enkliptika
: 5 derajat – 5 derajat 8`
Suhu permukaan : - 180 derajat celcius pada tengah malam
: 120 derajat celcius >pada tengah hari
Kecepatan lepas (kecepatan yang dibutuhkan untuk lepas dari gravitasi bulan) : 2,37 km/detik (bumi = 11,18 km/detik)

Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan

Gerhana Total

Beragam mithos tentang gerhana di berbagai tempat di muka bumi menarik untuk disimak sebagai pelestarian kekayaan khasanah budaya manusia di masa lalu. Raksasa Betara Kala atau Rahu menelan matahari karena dendamnya pada Sang Surya (matahari), menyebabkan terjadinya gerhana. Di belahan bumi lain muncul pula cerita tentang Naga Langit yang menelan matahari atau bulan saat gerhana berlangsung. Tidak kalah menariknya beragam aktivitas makhluk hidup dilakukan mulai dari perilaku yang “kurang wajar” oleh sekelompok orang di pedesaan seperti memukul-mukul kentongan, bersembunyi di rumahnya dengan menutup rapat-rapat semua pintu dan jendela rumah, menutup sumur dan tempayan, menyelam di sungai, memukul-mukul pohon kelapa, perempuan hamil bersembuni di bawah tempat tidur dsb, sebagai cerminan rasa ketakutan psikologis akibat kepercayaan terhadap pengaruh mithos gerhana, maupun perilaku binatang malam yang keluar dari sarangnya di siang hari, sampai penelitian ilmiah modern pun dilakukan oleh manusia.

Dalam kamus Ilmu Pengetahuan Alam, sebenarnya gerhana merupakan gejala alam biasa yang berulang akibat perulangan gerak bulan dan bumi mengedari matahari. Gerhana merupakan gejala saling menutupi antar benda langit. Bulan bergerak di antara kedua belahan langit, utara dan selatan di sepanjang daerah zodiak. Pada suatu waktu bulan lewat di depan matahari dan menghalanginya sehingga terjadi gerhana matahari yang dapat terjadi pada saat fase bulan mati atau posisi konjungsi. Gerhana matahari dapat berupa gerhana matahari total, gerhana matahari cincin (anular) atau gerhana matahari sebagian.

Pada saat lain, yaitu ketika bulan sedang beroposisi terhadap matahari atau penampakan fase purnama, bulan dapat melewati bayangan bumi, sehingga terjadi gerhana bulan. Gerhana ini dapat berupa gerhana bulan total, gehana bulan sebagian atau gerhana penumbra (samar).

Bulan dan bumi membentuk kerucut bayangan akibat disinari oleh matahari. Pada bayangan itu terdapat daerah gelap (umbra) dan bagian samar (penumbra). Ketika terjadi gerhana matahari, bayangan bulan jatuh ke permukaan bumi dan bergerak sepanjang daerah tertentu yang disebut daerah lintasan gerhana. Daerah ini terdiri atas daerah gerhana total dan daerah gerhana sebagian. Daerah gerhana matahari total dilalui oleh bayangan umbra bulan dan daerah gerhana matahari sebagian hanya dilalui oleh bayangan penumbranya. Tempat yang mengalami gerhana berbeda dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, akibat dari sistem peredaran bumi terhadap matahari dan peredaran bulan sebagai satelit bumi.

Gerhana matahari total merupakan peristiwa yang mempunyai arti lebih penting dibandingkan dengan gerhana matahari lainnya maupun gerhana bulan, oleh karena kita dapat menyelidiki sifat-sifat matahari dan juga gejala-gejala terestrial.

Aspek-aspek yang dapat dipelajari pada saat gerhana matahari total, antara lain penampakan korona matahari, prominensa dan lapisan khromosfer. Terjadinya gerhana disertai pula oleh peristiwa pasang laut maksimum antara letak matahari, bulan dan bumi yang segaris. Fenomena lainnya pada saat terjadi gerhana matahari total yang menarik untuk diteliti: perubahan cuaca secara mendadak, perilaku makhluk hidup yang ada di bumi termasuk kegiatan manusianya sendiri, semua itu merupakan kegiatan penelitian fisika, biologi ataupun sosial. Durasi gerhana matahari total relatif singkat, yang terlama hanya sekitar 7 menit.

Gerhana matahari cincin terjadi apabila puncak kerucut bayangan umbra bulan tidak mencapai permukaan bumi. Hal itu bisa terjadi karena jarak bumi-bulan berubah-ubah, sesuai dengan lintasan peredaran bulan yang berbentuk ellips. Pada saat gerhana matahari cincin ini bulatan bulan tampak lebih kecil dari ukuran piringan matahari.

Gerhana bulan juga menarik untuk diamati dan dipelajari, misalnya untuk menguji ketepatan perhitungan ephemeris (koordinat benda langit). Pada saat itu posisi bulan, bumi dam matahari tepat satu garis. Jika bulan bergerak di dalam daerah bayangan penumba bumi, tanda-tanda gerhana tak tampak, oleh karena itu yang bisa kita amati ialah pada saat bulan memasuki daerah bayangan umbra bumi. Gerhana bulan terlihat oleh hampir setengah muka bumi, bisa berlangsung sampai lebih dari 3 jam.

Fase bulan berulang rata-rata dalam 29,5 hari yang disebut satu bulan sinodis. Tidak setiap bulan mati terjadi gerhana matahari, begitu pula tidak setiap bulan purnama terjadi gerhana bulan. Hal ini disebabkan oleh orbit bulan membentuk bidang miring sebesar 5 derajat terhadap bidang ekliptika. Perpotongan dua bidang tersebut membentuk garis nodal yang berputar ke arah barat dalam periode 18,6 tahun, yang disebut periode nutasi bulan. Kedudukan matahari dekat sebuah titik nodal disebut musim gerhana, yang berulang pada setiap 173,3 hari. Perpaduan periode putaran garis nodal dan periode fase bulan menyebabkan gerhana serupa akan berulang setiap 18 tahun 11,3 hari, yang disebut periode saros. Setiap perulangan periode saros, wilayah lintasan gerhana di bumi akan bergeser pada tempatnya, akibat harga periode saros tidak bulat. Jika musim gerhana pertama jatuh pada bulan januari, gerhana matahari dapat terjadi sebanyak 5 kali dalam satu tahun. Jumlah maksimum seluruh jenis gerhana baik gerhana matahari dan gerhana bulan dalam satu tahun dapat terjadi sampai 7 kali.

Saat-saat terjadinya gerhana matahari maupun gerhana bulan dapat diperhitungkan jauh-jauh sebelumnya, karena sistem pergerakan bumi mengitari matahari dan bulan mengelilingi bumi telah diketahui dengan sangat teliti.

Gerhana matahari total pada tahun-tahun yang akan datang s/d tahun 2010 berdasarkan perhitungan.

Tahun Tanggal Jenis Lama Total Daerah Lintasan Gerhana
2002 04 Desember Total 02m:03,7d Afrika, Samudera Indonesia, Australia
2003 23 November Total 01m:57,2d Kutub Selatan
2005 08 April Cincin/Total 00m:42,0d Samudera Pasifik
2006 29 Maret Total 04m:06,7d Afrika, Eropa, Rusia
2008 01 Agustus Total 02m:27,2d Rusia, China
2009 22 Juli Total 06m:38,9d China, Samudera Pasifik
2010 11 Juli Total 05m:20,2d Samudera Pasifik

Catatan:
Gerhana matahari total terdekat yang melewati wilayah Indonesia akan terjadi pada tanggal 09 Maret 2016 dengan durasi 04m:09,5d. Daerah lintasan gerhana mencakup wilayah: sumatera, kalimantan dan sulawesi.

Penjelajah Kecil di Tata Surya
Saat langit malam penuh bintang, kadang tampak melesat seberkas cahaya seolah-olah ada bintang yang jatuh. Arahnya sukar ditebak dan muncul sembarang waktu. Penampakannya sangat singkat karenanya dahulu kala disebut bintang beralih, bintang jatuh. Bahkan bintang hantu. Benda langit ini bukan bintang sejati melainkan salah satu penjelajah kecil di tata surya yaitu meteor. Keberadaannya baru disadari tahun 1803 saat di Perancis terjadi “hujan meteor”.

Meteor

Meteor berasal dari materi debu dan batuan aneka ukuran yang jumlahnya bertrilyun buah mengisi ruang di tata surya. Yang dekat planet bisa jatuh ke planet termasuk bumi akibat gaya grafitasi. Bila ke bumi akan menembus angkasa dan bergesekan dengan materi atmosfer lalu terbakar. Umumnya berpijar di ketinggian antara 50 – 150 km. Saat terbakar itulah disebut meteor, sementara calon meteor disebut meteoroid.

Bila meteoroid-nya besar dan tidak habis terbakar, sisanya sampai di bumi disebut meteorit. Lokasi jatuhnya pun tersebar diseluruh muka bumi. Semisal di Hoba-Afrika (60 ton), Greenland (36 ton), bahkan di Indonesia ditemui beberapa cukup besar. Kalau yang jatuh berukuran besar, dampaknya luar biasa. Ini tidak lepas dari kecepatan jatuhnya yang bisa mencapai 60 km/detik. Umumnya kalau jatuh di daratan akan akan membentuk semacam kawah seperi di Arizona-Amerika Serikat, yaitu kawah Barringer yang dalamnya 200 m dengan diameter 1.250 m.

Dari penelitian ternyata meteoroid bukan hanya berasal dari materi antar planet, namun juga dari bulan, planet mars, komet, asteroid, dsb. Kini diketahui unsur pembentuk meteoroid umumnya terdiri dari batuan silikat (jenis aerolit), logam (siderit), atau campuran (siderolit/litosiderit). Terbanyak jenis aerolit, 61%.

Kawah meteor

Pada waktu tertentu dan secara berkala tiap tahun, terjadi fenomena hujan meteor. Arah datangnya seolah dari satu titik (titik radian) akibat perspektif belaka, ibarat melihat rel kereta api yang bertemu dikejauhan. Hujan meteor ternyata berkait erat dengan penjelajah kecil lainnya yaitu komet dan asteroid.

Mengenai komet, penampakannya di malam hari khas mirip dengan sebentuk ekor dan itulah yang menyebabkan dia dijuluki bintang berekor. Ada yang menamakan lintang kemukus, bintang sapu, bintang berasap, bahkan si rambut gondrong. Penampilannya memang berbeda dengan benda langit lainnya. Wajahnya agak kabur berkabut termasuk ekornya yang kadang sangat panjang. Sebagai salah satu penjelajah kecil di tata surya, komet juga mengedari matahari. Bila mendekati bumi, komet bisa dilihat bahkan kadang cemerlang. Pergeserannya yang sangat lambat berlatar belakang bintang membuatnya dapat diamati berhari-hari bahkan sampai terbilang bulan.

Banyak ahli yang mencoba menguak misteri komet yang ternyata jumlahnya sangat berlimpah. Antara lain Halley dengan perhitungan orbitnya, Whipple yang meneliti struktur intinya, Jan Oort yang menguak daerah asalnya, dsb. Kini telah dikenal komet berperiode panjang semisal komet Kohoutek, Hyakutake, Hale-Bopp. Ada yang berperiode pendek semisal komet Halley, Biela, dan Encke. Ini berkait dengan periode edarnya. Ada pula komet yang begitu dekat dengan matahari sedemikian hingga hancur lebur. Yang unik, ada komet yang tidak mengedari matahari melainkan mengedari planet jupiter. Terdapat 40-an komet, salah satunya Shoemaker-Levy 9 yang hancur pada tahun 1994 karena jatuh ke planet tersebut.

Sebenarnya komet terdiri dari bongkahan salju kotor berasal dari pinggiran tata surya yang karena gangguan tertentu mendekati matahari. Dengan adanya kombinasi tekanan radiasi dan lontaran angin matahari akhirnya terlihat seperti bintang berekor karena membubuskan materi. Melihat hal ini, maka sepanjang jejaknya penuh materi dan kalau bumi masuk ke jejak tersebut dapat menyebabkan hujan meteor.

Batu Asteroid

Ada satu lagi penjelajah kecil yaitu asteroid yang jumlahnya jutaan. Uniknya sebagian besar mengedari matahari di antara planet mars dan jupiter, membentuk daerah sabuk asteroid. Struktur sebarannya mirip cincin planet saturnus. Penemuan asteroid secara tidak sengaja saat astronom Jerman, Bode dan rekannya Titius, merumuskan secara matematika jarak planet ke matahari (hukum Titus-Bode). Asteroid pertama ditemukan Piazzi tahun 1801, sekaligus asteroid terbesar berdiameter 933 km bernama Ceres. Karena ciri dan sifatnya, asteroid juga disebut planet kecil, planet minor, atau planetoid. Ada dugaan asteroid berasal dari hancurnya planet di antara mars – jupiter. Unsur pada asteroid ternyata hampir sama dengan yang ada pada meteoroid.

Kini diketahui, banyak asteroid yang lintas orbitnya tidak di sabuk asteroid. Yang mendekati matahari disebut gugus Apollo-Amor-Aten. Yang mendekati bumi atau bahkan lintasan edarnya tumpang tindih dengan orbit umi biasa disebut EGAs (earth grazer asteroids). EGAs menjadi perhatian sebab sangat berpotensi menabrak bumi. Apabila ukurannya dalam orde kilometer, sangat tidak diharapkan. Nyatanya kecemasan akan hal ini beralasan mengingat sejarah bumi. Banyak terjadi pada masa lalu si penjelajah kecil tata surya ini mampir layaknya meteor raksasa. Bahkan punahnya dinosaurus diduga kuat berkaitan erat dengan peristiwa jatuhnya asteroid.

Penelitian terhadap penjelajah kecil ini bukan hanya dilakukan dari bumi, melainkan sudah banyak wahana antariksa yang ditugaskan untuk mengamatinya. Semisal wahana ICE (International Comet Explore, 1978). Lalu tahun 1985 diluncurkan Sakigake, Suisei, Vega 1, Vega 2, Giotto. Yang saat ini masih mengelana guna meneliti si penjelajah kecil baik secara langsung maupun tidak adalah Galileo (1989), Hubble Space Telescope (1990), Solar and Heliospheric Observatory (1995), Near-Earth Asteroid Redezvous (1996), Stardust (1999), dan Deep Space (1999).

Banyak sudah hasil dari wahana antariksa ini. Struktur dan unsur pembentuk komet semakin terkuak. Asteroid pun ada yang memiliki satelit seperti asteroid Ida dengan satelitnya Dactyl. Namun demikian, sebenarnya masih banyak misteri tentang penjelajah kecil ini. Masih ada beberapa jenis penjelajah kecil lainnnya yang sampai kini terus diteliti seperti materi sabuk kuiper yaitu materi di luar orbit neptunus yang mirip asteroid. Lalu obyek centaurus atau plutinus yaitu dalam peredarannya mirip planet pluto. Bahkan pluto sendiri keberadaannya masih terus diperdebatkan, apakah planet sejati atau tergolong obyek centaurus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fariz Budi Gumelar

July 2014
M T W T F S S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: